Powered by Blogger.
RSS

Gejala OCD: Cari Tahu Apakah Kamu Memiliki OCD dan Apa Jenis OCD-mu (Penting Diketahui Siapapun)



Halo, melanjutkan postinganku tentang Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) sebelumnya, kali ini aku membuat postingan tentang gejala OCD yang bersumber dari skripsi karya Uti Ayu Mu'minat dari Universitas Diponegoro Semarang. Lewat postinganku ini aku juga menyampaikan rasa terimakasih-ku kepada Uti. Aku bener2 gak tahu harus nyampein kemana nih, soalnya aku gak kenal orangnya :(. Aku mendapatkan tulisannya ketika sedang mencari informasi mengenai OCD di internet. Sebagian isi skripsinya  yang mengulas tentang OCD benar-benar membantu untuk memahami tentang penyakitku ini. 


Oh iya, jika kamu belum membaca postinganku yang menjelaskan tentang apa itu Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) atau Kelainan Obsesif Kompulsif, aku menyarankan kamu supaya membacanya terlebih dahulu (supaya nyambung gitu, hehe). Untuk membacanya postingan lain mengenai OCD, klik di sini. :)



Seperti isi postinganku yang lain tentang OCD, aku pun berharap agar isi postinganku dapat bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mencari info tentang OCD. Selain berbagi pengalaman dan cerita-cerita yang aku buat kepada semua orang, melalui blog ini aku pun ingin berbagi informasi dan pengalaman mengenai OCD. Aku merasakan saat-saat sulit waktu pertama kali mengetahui penyakitku ini karena kesulitan mencari orang yang mengalami hal yang sama denganku sebagai tempatku berbagi. 

Jadi, jika kalian juga menderita OCD dan butuh teman untuk berbagi, dengan senang hati aku akan meresponnya. Silakan menghubungi aku lewat blog ini :). Kedepannya aku akan terus berusaha merangkum informasi tentang OCD di blog ini dan tentu saja menulis berbagai pengalamanku yang lain dan cerita-cerita  yang aku buat yang aku harap dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi semua orang :). Halah,, udah ah opening-nya panjang bangets. Maap yahh :p. Let's check it out!

----------------------------------------------------------------------------------------------------
GEJALA OCD
Foa dan Wilson (2001: 8-11) membagi OCD menjadi 6 jenis. Tiap-tiap jenisnya memiliki gejala masing-masing. Gejala-gejala tersebut antara lain:

Checkers
Seseorang yang menderita jenis ini adalah seseorang yang selalu mengecek apapun secara berulang-ulang hingga dia merasa keadaan telah aman. Orang tersebut melakukan hal itu dengan tujuan untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak baik. Beberapa kebiasaan checkers adalah memastikan kompor sudah mati atau apakah pintu sudah dikunci atau hal-hal lain yang sekiranya akan membahayakan (Foa dan Wilson, 2001: 9).




Washers and Cleaners
Mereka adalah orang-orang yang takut terkontaminasi sesuatu seperti kuman, kotoran, ataupun penyakit. Untuk membuat mereka yakin tidak terkontaminasi, mereka akan melakukan hal-hal selama mungkin setelah bersentuhan dengan sesuatu. Contohnya dengan mandi dengan waktu yang lama, mencuci tangannya berulang-ulang, atau membersihkan rumah selama berjam-jam. Itu mereka lakukan sampai mereka yakin bahwa mereka telah aman dari kuman, kotoran, ataupun penyakit (Foa dan Wilson, 2001: 8).




Repeaters
Mereka adalah orang-orang yang selalu mengulang perbuatan. Ketika ketakutan datang ke dalam pikiran mereka, mereka merasa suatu kebutuhan untuk mengulang sesuatu agar pikiran itu tidak datang. Misalnya menghindarkan pasangan dari kejelekan dengan cara memakaikan baju kemudian melepaskannya. semua itu dilakukan berulang-ulang hingga pikiran tentang kematian itu hilang  (Foa dan Wilson, 2001: 9).




Orders
Orders adalah orang-orang yang ingin benda-benda di sekitarnya tersusun dalam bentuk yang simetris. Mereka menghabiskan banyak waktu hanya untuk meyakinkan bahwa benda-benda tersebut tersusun dengan benar. Biasanya mereka akan cemas dan kecewa jika benda milik mereka tidak tersusun dengan benar (Foa dan Wilson, 2001: 9).




Hoarders
Hoarders adalah orang yang mengumpulkan benda-benda yang mereka pikir akan sangat tidak mungkin untuk dibuang. Misalnya adalah ketika seseorang mengumpulkan begitu banyak koran untuk waktu yang lama karena mereka pikir suatu hari mereka akan membutuhkan artikelnya (Foa dan Wilson, 2001: 10).




Thinking Ritualizes
Thinking Ritualizes bentuknya hampir sama dengan repeaters. Tetapi Thinker Ritualizes adalah orang yang pikirannya itu muncul akibat dari kebiasaan. Berdoa dengan suara yang pelan dan berulang-ulang serta mengucapkan kata, atau kalimat secara berulang-ulang pula merupakan beberapa contoh pemikir yang umum (Foa dan Wilson, 2001: 10).



----------------------------------------------------------------------------------------------------

Hmm.... bagaimana? Mungkin saja kamu memiliki gejala OCD yang selama ini tidak kamu sadari dan kalau kamu adalah penderita OCD, mungkin sekarang kamu telah mengetahui jenis OCD apa saja yang kamu alami. Setelah aku simpulkan dari berbagai sumber yang aku baca, orang dapat memiliki OCD dengan kadar yang rendah hingga kadar yang tergolong parah. Jadi aku sarankan kalau kamu merasa memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sudah tidak wajar sebagaimana yang telah disebutkan di atas, sebaiknya kamu mulai untuk menguranginya. Sebab jika OCD sudah terlanjur parah, akan semakin sulit untuk menyembuhkannya.

Ini seperti konsep penyakit pada umumnya, ketika kita mengalami gejala-gejala awal suatu penyakit maka harus cepat-cepat kita obati. Misalnya, kamu terkena gejala flu, maka kamu harus cepat-cepat minum obat flu agar tidak semakin parah. Sama seperti OCD, ketika kita sudah mengalami gejalanya, kita harus cepat-cepat menghilangkannya agar tidak semakin parah.

OCD-ku ini juga diawali dengan perbuatan-perbuatan yang pada mulanya aku anggap wajar. Seiring waktu, ditambah ketidaktahuanku bahwa ini dapat berkembang menjadi gangguan psikologis, akhirnya hal itu menjadi kebiasaan. Sampai ketika aku mengalami suatu tekanan/cobaan yang lumayan berat dalam hidupku, sejak itu OCD-ku bertambah parah. Aku seringkali merasa cemas, khawatir, dan takut dengan sangat berlebihan sehingga aku terobsesi dengan banyak hal, lalu untuk menghilangkan kecemasan atau rasa takut itu, aku melakukan berbagai macam perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi). Aku sendiri mengalami keenam jenis OCD yang disebutkan di atas. Menyakitkan? Menyusahkan? Menderita? aku katakan YA, SANGAT dengan 10.000 kali di belakangnya (saking sakit dan tidak enaknya mengalami ini hingga sulit digambarkan. InsyaAllah lain kali aku akan mencoba menceritakan OCD yang kualami dengan lebih detail agar dapat menjadi bahan pembelajaran).

Hal yang dapat aku katakan saat ini, menjadi penderita OCD itu sangat menyakitkan, kadangkala rasanya lebih sakit daripada ketika kita mengalami penyakit fisik. Jadi sekali lagi aku tekankan, jika kamu mengalami gejala-gejala OCD, cepat-cepatlah menghilangkannya dan jangan jadikan itu kebiasaan yang dapat menjadi gangguan psikologis yang bersifat parah.

Jika kamu memiliki teman yang mengalami OCD, maka kamu harus mempercayainya, karena walaupun terkesan aneh dan tidak mungkin, penyakit seperti ini memang ada. Walaupun mungkin ia sangat menyusahkanmu atau membuatmu kesal dengan segala kebiasaan-kebiasannya yang tidak wajar, jangan pernah tinggalkan dia. Percayalah bahwa dia pun tidak menginginkan hal ini dan dia pun sebenarnya tidak ingin menyusahkanmu atau membuatmu kesal. Percayalah bahwa ia sendiri merasa sakit dan menderita karena penyakitnya itu. Hanya saja ia belum bisa melawan dorongan-dorongan negatif dari dalam dirinya.

Bersikaplah tegas dan bantulah dia untuk perlahan-lahan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan OCD-nya. Yakinkan ia bahwa sikap tegasmu bukan karena kamu tidak menyayanginya, namun karena kamu ingin ia sembuh. Penderita OCD sebenarnya sadar bahwa hal-hal yang ia lakukan adalah hal yang salah dan tidak rasional/di luar akal sehat. Oleh karena itu, hal yang sangat utama untuk dilakukan adalah : memberi kekuatan pada hati dan jiwanya untuk dapat melawan dorongan-dorongan negatif dari dalam dirinya. Sebagai teman, kamu dapat melakukan hal ini. Selain itu, yang juga penting, kamu dapat mendampingi temanmu untuk mengikuti terapi.

Aku sendiri sekarang masih dalam proses penyembuhan. Aku sangat bersyukur memiliki orangtua yang membantuku mengalami masa-masa sulit ini. Sangat aku akui bahwa aspek rohani adalah hal yang paling membantu dalam penyembuhan OCD-ku. Keyakinan bahwa kita memiliki Allah Yang Maha Kuasa, Maha Melindungi, Maha Mengetahui, dan dengan segala sifat-Nya yang sempurna akan sangat membantu kita untuk menghilangkan rasa takut, cemas, dan khawatir yang berlebihan. Namun, memang keyakinan ini tidak bisa dibangun dengan satu malam, namun dengan proses. 

Berdasarkan apa yang aku alami, karena aku seorang muslim, langkah pengobatan yang paling utama adalah dengan memperbaiki ibadah dan hubungan dengan Allah SWT. Yakinlah Allah tidak mungkin memberikan cobaan yang tak dapat ditanggung hamba-Nya, Ia pasti akan menolongmu melewati cobaan ini. Hal ini kemudian didukung dengan pengobatan secara psikologis maupun medis. Nantinya pengobatan-pengobatan ini dapat dilakukan secara bersamaan, asal pengobatan lain yang dilakukan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Juga bagi teman-teman yang beragama lain, pengobatan yang paling utama adalah dengan memperkuat aspek rohani terlebih dahulu, kemudian didukung dengan pengobatan dari aspek lainnya. 

Aku sendiri selain berusaha memperkuat sisi rohani, aku juga mengikuti terapi. Dengan mengikuti terapi, aku mengetahui asal dorongan-dorongan negatif dari dalam diriku serta bagaimana cara melawannya. Perubahan yang aku alami  tidak drastis, namun sedikit demi sedikit aku dapat mengurangi rasa takut/cemas/khawatir yang aku rasakan serta kebiasaan-kebiasaanku yang di luar batas kewajaran. Sekali lagi tidak drastis, namun ada perubahan yang aku rasakan sedikit demi sedikit. 

Oh ya, ketika ingin memperkuat sisi ibadah, mungkin ada penderita OCD yang mengalami kesulitan karena pada saat beribadah pun ia juga mengalami gangguan OCD. Aku pun mengalaminya. Ketika aku membaca di sebuah blog, ternyata ada penderita OCD lain yang juga mengalaminya. 

Dalam beribadah (shalat, wudhu, berdoa, dll) aku pun juga mengalami gangguan OCD yang dalam ajaran agamaku disebut was-was. Jujur, hal inilah yang paling 10.000x terasa menyakitkan! Bayangkan, pada saat akan beribadah pun kamu mengami kesulitan! Padahal ibadah merupakan hal utama dalam hidup. Aku sendiri pernah berniat shalat sampai berulang-ulang, sampai mau nangis saking merasa kesulitan untuk shalat. Aku selalu merasa niatku tidak sah dan shalatku tidak akan diterima Allah, begitu pun ketika wudhu atau berdoa, aku juga pernah mengalaminya. Memang sangat menyakitkan! namun inilah ujian yang harus dihadapi. Seringkali aku menganggapnya sebagai teguran mungkin karena selama ini aku jauh dari Allah dan dengan cobaan ini Allah ingin aku menjadi lebih dekat dengan-Nya.

Aku sendiri berusaha melawannya sebisa mungkin. Berdasarkan pengalamanku, perlawanan terhadap was-was ini dapat kita lakukan jika kita mengingat Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya serta dengan menambah ilmu mengenai bagaimana tata cara pelaksanaan ibadah yang benar agar rasa was-was saat kita beribadah menjadi berkurang. Memang sangat 10.000x sulit, tapi untuk sembuh tetap harus dilawan!

Wah, panjang banget ya postinganku kali ini? Tapi aku berharap semoga postinganku bermanfaat. Aku sama sekali gak memiliki latar belakang ilmu psikologi dan apa yang aku tulis adalah berdasarkan apa yang aku alami sendiri dan yang aku pelajari dari berbagai sumber. Jadi aku minta maaf jika ada orang yang lebih ahli membaca tulisanku lalu menemukan kesalahan dalam tulisanku ini. Mohon dimaklumi dan tentunya mohon dikoreksi ya. Sebab sekali lagi aku katakan bahwa apa yang aku tulis adalah berdasarkan pengalamanku sendiri yang aku buat dengan tujuan berbagi informasi dan pengalaman kepada orang lain, terutama penderita OCD sepertiku.

Sekian teman-teman, sampai ketemu di postingan selanjutnya... Tetap semangats dan bersyukurlah dengan hidupmu... ;)

PS: Jika kalian ingin membaca postingan lain mengenai OCD, klik di sini ya  :)

Wajib Baca: Memperbaiki Persepsi Tentang OCD [PENTING UNTUK DIBACA]
      








  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

31 komentar:

Ummu SaKiaFra said...

huwa... merasa ada temennya. i feel you mb. saya juga pernah mau nangis karena takbir ga bisa/ bisa, klo bisa, saya batalin lagi. hampir satu jam cuma buat solat isya doang. makasih infonya ya mb, aq ijin copas ya?

Kids tiger said...

Terimakasih informasi ini sangat berguna sekali. Saya mau tanya Bagaimana caranya membantu teman Menghilangkan kebiasaan ocd nya dan maksud bersikap tegas seperti apa? Trimakasih sebelumnya

Kids tiger said...

Apakah ocd bisa sembuh Sendiri tanpa bantuan psikolog? Bagaimana cara menyembuhkan/meringankan penyakit ini dari diri sendiri? Trimakasih

Vidhee said...

silakan dengan mencantumkan sumbernya :)

Vidhee said...

maaf ya sblmnya, karena aku baru sempat membalas pertanyaannya... bersikap tegas artinya kita tidak membiarkan teman kita larut dalam kebiasaan OCD-nya, namun perlahan-lahan kita bantu dia untuk meninggalkan kebiasaan OCD-nya. Oh iya, bisa cerita tentang keadaan teman kamu itu...? Saya juga penderita OCD, senang sekali jika dapat berbagi...

Vidhee said...

Saya rasa bantuan psikolog tetap diperlukan, karena selain membutuhkan teman, penderita OCD juga membutuhkan bantuan ahli. Saya juga masih dalam masa penyembuhan. Meringankan penyakit ini dengan diri sendiri dapat dilakukan dengan memperkuat ibadah dan keyakinan pada Tuhan, berzikir, dan berdoa. Keyakinan bahwa Tuhan Maha Melindungi akan mengurangi kecemasan dan kekhawatiran yang dialami penderita OCD. Selain itu harus ada usaha dan kemauan yang kuat dari dalam diri penderita-nya sendiri untuk melawan penyakit tersebut...

Vidhee said...

siapa yang menderita OCD? katakan padanya bahwa dia tidak sendiri... Saya juga sedang berjuang keras untuk melawan penyakit ini. Semoga kita dapat sama-sama bersabar dan terus menguatkan diri. Yakinlah akan ada 'hadiah' indah yang Tuhan persiapkan untuk kita suatu hari nanti...Untuk berbagi bisa kontak saya di vidhee.me.here@gmail.com

Delta Kapuas said...

Alhamdulillah... sangat bermanfaat artikelnye.. sepertinya saya juga punya, Checkers....

Delyanet Karmoni said...

Saya sepertinya sering melakukan 4 dari 6 gejala di atas.... Apakah itu bisa dikategorikan mengalami gangguan OCD juga? Apakah ada cara menentukan derajat keparahan kelainan mental tersebut?

Terima kasih

Nasra Heni said...

sama mba' . . yang tambah preasure . . saya mahsiswa psikologi . . cape . . tapi tetap berusah yang terbaik

varla dhewy said...

Kak Yanet: Bisa saja kak, sebab gejala-gejala di atas adalah gejala yang mungkin terjadi pada penderita OCD. Kadar keparahannya bergantung pada seberapa terganggunya kita dengan kebiasaan tersebut. Untuk mengetahui tingkat kadar keparahan dengan lebih tepat tentunya tetap harus berkonsultasi langsung dengan orang yang ahli di bidang ini (psikolog/psikiater).

varla dhewy said...

Sama-sama semangat Nasra Heni :)

Chaidir Precious said...

Saya baru tahu tentang OCD yang satu ini sebagai penyakit mental..
Sebelumnya saya ngira OCD yang Deddy Corbuzier itu Mbak!! ^_^ hehehe..

Saya doakan semoga Mbak Varla Dhewy bisa terus semangat berjuang melawan gangguan dari kebiasaan OCD itu yaa!! Dan mudah2an Allah memberikan jalan kesembuhan yang terbaik.. Aamiin..

Varla Dhewy said...

Terima kasih ya support dan do'a-nya Mas Chaidir ^_^ Amiiin Ya Robbal Alamin....
Mohon dibaca juga ya Mas postingan lanjutan yang berada di bawahnya, biar klop, hehe ^_^

hendra koh said...

hari ini saya baru tahu dari teman saya bahwa saya kemungkinan menderita penyakit OCD, setelah saya searched di internet, ternyata rata2 apa yang disebutkan sama seperti apa yang saya alami.. saya gak tau merasa sedih atau gimana.. sama skali gak tau cara nya aku mesti gimana... pengen pergi ke psikolog, tapi takut tidak cukup bayar biaya.. kira2 ada yang tau brapa kalo pengobatan psikologis begitu... ?
rata2 jenis yang disebutkan diatas, saya mengalaminya.. apakah sudah sangat parah dengan kondisi tersebut..? sifat Kepastian diri aku sudah hilang... jadi solusinya gak tau harus gmana...

Varla Dhewy said...

Mas Hendra jangan khawatir, karena banyak kok yang mengalami hal ini. Begini, apabila Mas Hendra merasa mengalami gejala-gejala OCD dan hal tersebut telah mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari Mas Hendra seperti sekolah/bekerja dsb., maka Mas Hendra memang perlu berkonsultasi pada psikolog. Psikolog akan mendiagnosa gejala-gejala yang Mas Hendra alami. Kemudian apabila benar Mas Hendra menderita OCD, psikolog akan membantu Mas Hendra agar Mas bisa mengendalikan kebiasaan-kebiasaan OCD Mas sehingga Mas bisa beraktivitas dengan lancar. Berdasarkan pengalaman saya kemarin, biayanya sekitar 75rb-100rb untuk setiap pertemuan. Tapi mungkin bisa berbeda-beda. Apa Mas Hendra sudah mencoba bertemu psikolog di rumah sakit jiwa milik pemerintah di daerah Mas Hendra? Sebab ada kemungkinan biayanya lebih murah. Ditunggu ya Mas, kabar selanjutnya dari Mas Hendra. Sama-sama semangat ya Mas! :)

hendra koh said...

Halo mbak Varla. Terima kasih support nya.
benar skali saya merasa terganggu dengan penyakit ini.. apalagi skarang saya udh tau bahwa pasti saya sudah kena penyakit ini. Sebab rata2 apa yang dialami mbak, itu smua sudah dialami saya... jujur, saya sampai gak brani dan takut mau keluar rumah, sebab saya harus mengunci pintu, mematikan semua listrik. Saya takut prilaku saya mengulang-ngulang buka tutup pintu terjadi lagi... bahkan kalo dibiarin saya malah gak tenang jalanin aktivitas diluar sana. :)
nnt saya akan cari informasi diluar sana dokter psikolog. Karna kalo di daerah saya, gak ada rumah sakit jiwa. :)
Hehe.. mbak tetap semangat juga ya mbak... selalu berdoa, mudah2an smua berjalan lancar... dan semoga lekas sembuh ya... Semangat!!! ;-)

Varla Dhewy said...

sama-sama Mas Hendra, semoga dapat lekas berkonsultasi dengan psikolog. Ditunggu ya kabar selanjutnya :)

herdianovic said...

Baru tahu nih kalo kebiasaan-kebiasaan kaya gitu ternyata kelainan.Saya hampir pernah mengalami semua gejala yang disebutin diatas...Sangat bermanfaat tulisannya.Nice :)
www.herdianovic.com

Varla Dhewy said...

herdianovic: sudah berlebihan dan mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari atau masih dalam batas wajar?

bubu ais said...

makasih sudah mau berbagi ..
sangat bermanfaat ..

Putri Rahmah Ajizah said...

astahgfirullah, kok kita sama ka? bikin stress sendiri tau kak! malah tuh ya sekarang aku malah makin parah sampe kadang suka benturin kepala sendiri -_- jadi kesannya mencelakai diri sendiri. kak, baca deh nih blog aku kaa http://girlstoneavenue.blogspot.com/ tentang OCD yg aku alamin. kadang suka bingung sama diri sendiri, kadang juga malu banget untuk mengakui itu semua.

Varla Dhewy said...

iya sudah aku kunjungi putri... mau sharing...? :)

Putri Rahmah Ajizah said...

makasih kaakk ^^ mauuuu hehehe

Varla Dhewy said...

aku udah kontak ke twitter-nya ya putri, bisa chat via DM :)

aulya syukur said...
This comment has been removed by the author.
aulya syukur said...

alhamdulillah telah sembuh :)
baca ya http://ausyu-otodid.blogspot.com/2014/08/cuap-cuap-ku-pahitnya-bergelut-dengan.html

Natasya Tamara Dava said...

haha i feel you, mungkin di kasus saya sedikit berbeda karena syukurlah gangguan ini bukan menjadi penghalang saya untuk beribadah :') maka dari itu saya memberi respon cukup positif terhadap gangguan ini. memang saya sangat susah untuk tidak berpikiran negatif sebagai defence mechanism yang secara alami terjadi di hidup saya, tapi saya mencoba menyarankan untuk tidak menganggap kelemahan kita ini sebagai suatu penyakit yang dapat mengganggu aktifitas. gangguan ocd ini saya alami dari saya masih kecil dan mungkin tidak bisa begitu cepat hilang sampe saat ini (saya berusia 20th) tapi saya bisa meredamnya jika dibutuhkan. cukup punya keyakinan kuat kalau semuanya berjalan normal dan lancar, ingat Tuhan akan selalu ada untuk kita. solusi yang saya buat dalam gangguan ini adalah dengan memputar balikan kelemahan menjadi kelebihan. kehati hatian sangat dibutuhkan juga toh dalam kehidupan sehari hari? asal disaat kita merasa sudah terlalu berlebihan mengecek sesuatu kita harus meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya sudah berjalan dengan aman. haha saya merasa kesusahan karena terkadang saya mengecek pintu hampir lebih dari 5x dan saat sudah telat ke kampus saya lebih memilih untuk kembali dan memeriksa pintu sampai keadaan pikiran saya sudah tenang dan merasa aman. sisi positifnya? kamar kita jauh lebih aman karena kita selalu mengecek pintu tsb secara berulang ulang bukan? haha, semangat!

Niken Widyasari said...

Mba, Apakah OCD ini bisa berkaitan dengan hubungan percintaan? Apakah mungkin bahkan orang-orang yang melakukan bunuh diri pun mungkin sebenarnya mengidap penyakit seperti ini. Saya beberapa kali membaca artikel tentang OCD ini dan saya merasakan gejala-gejala tersebut. Namun saya belum memastikan apakah saya mengidap OCD ini atau tidak, karena saya merasakan ini setelah putus cinta. Bukan ke kegiatan yang dilakukan berulang kali tapi lebih ke pikiran yang terulang beberapa kali. Adapun kegiatan yang saya sadari saya berulang kali melakukan itu tapi tidak parah. Tolong dibantu ya :')

Jonasish said...

Walaupun belum periksa ke psikiater/psikolog.
Tapi aku punya most of gejala2 OCD.
Memang sangat mengganggu, terutama saat aku akan berangkat kuliah meninggalkan kosan. Berulang kali aku mengecek pintu kamar hanya untuk memastikan pintu tersebut sudah terkunci. Bahkan setelahnya, aku kembali lagi ke kamar hannya untuk memastikan aku sudah mematikan seluruh alat elektronik dan air di kamar mandi.
Jujur ini sangat mengganggu.

Tapi bagiku, setiap hal punya sisi positif. Kamar kosanku selalu jadi yang paling aman dari kamar2 lainnya. Dan paling bersih tentunya.

Sekedar share~~
:)

Unknown said...

obatnya itu lawan lawan lawan pikiran negatif, karna kita tau mana pikiran yg benar dan mana yg salah. walupun pertama melawan terasa berat, dan lama kelamaan pun kita bisa terlepas dari pikiran itu

Post a Comment

Silakan berikan komentar Anda mengenai postingan ini, terima kasih :)

Silakan mengisi buku tamu :)