Powered by Blogger.
RSS

Pengalaman Saya Ikut Konseling [Newest OCD Post I]

Setelah hampir setahun tidak membuat postingan baru mengenai OCD akhirnya saya mulai melakukannya lagi. Setahun ini saya mencoba sebisanya menyelesaikan penelitian tugas akhir saya. Meskipun tidak secepat yang diinginkan dan saat ini pun masih belum selesai, saya tetap bersyukur karena saya akhirnya memutuskan untuk terus maju dan bergerak walau dalam keadaan yang tidak kondusif sekalipun.


Akhirnya kemampuan saya menemukan batas juga setelah berbulan-bulan berkerja sambil terus melawan dorongan OCD yang saya miliki. Beberapa bulan lalu, karena terus merasa berat untuk kembali bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan terapi ke psikolog. Saya melakukan konseling dan terapi ke sebuah biro konsultasi psikologi di kota saya.

Saya ingat hari itu saya telah hampir siap untuk pergi ke kampus, namun akhirnya keinginan itu saya batalkan. Hari itu saya merasa begitu lemah untuk pergi ke kampus. Mental saya drop. Rasanya saya tidak sanggup lagi melawan dorongan-dorongan rasa was-was yang saya rasakan pada saat saya sedang bekerja di lab. Saya merasa begitu berat dengan beban ketakutan dan kekhawatiran yang saya tanggung sendiri di dalam batin saya dimana pun saya berada. Ya, dimana pun. Rumah, kampus, dan semua tempat yang saya datangi sekalipun jika untuk bersenang-senang atau bersantai-santai. Saya merasa begitu lelah dengan semuanya. Sangat lelah.

Akhirnya hari itu juga saya meminta kepada Ayah untuk menemani saya pergi ke sebuah biro konsultasi psikologi yang alamatnya saya dapat dari seorang teman. Pagi itu, saya dan Ayah lekas pergi ke sana, namun kami diberi tahu bahwa psikolog-nya baru bisa datang sore hari karena sedang ada jadwal lain yang harus ditangani. Saya katakan pada Ayah, bahwa apapun yang terjadi saya harus tetap bertemu psikolog hari ini juga. Ya, hari ini juga. saya tidak mau ditunda-tunda lagi. Saya tidak mampu. Saya harus berbicara kepada seseorang yang benar-benar akan mengerti dan percaya dengan apa yang saya alami.

Sore hari kami datang lagi dan akhirnya saya dapat bertemu dengan psikolog yang saya panggil "Mbak". Pertemuan pertama saya diminta menceritakan segala hal yang saya alami selama ini. Pada sesi bercerita itu saya menumpahkan segala beban yang saya tanggung selama ini sambil menangis. Mbak mendengarkan dengan penuh perhatian hingga saya selesai bercerita. Saya melakukannya dengan lepas tanpa rasa takut tidak akan dipercaya atau akan dianggap aneh karena saya yakin bahwa apa yang saya alami merupakan bidang keahlian Mbak dan saya yakin Mbak akan dapat memahaminya.

Pertemuan kedua seminggu setelahnya, saya melakukan terapi. Terapi yang saya lakukan berupa kegiatan mengisi lembar kerja. Contoh lembar kerjanya seperti ini:


lembar kerja 1


lembar kerja 2
Pengisian lembar kerja ini merupakan bentuk terapi yang sangat saya rasakan manfaatnya. Mengapa? Sebab dengan kegiatan mengisi lembar kerja ini, kita diajarkan untuk mengurangi kebiasaan OCD kita dengan menggunakan logika. Sehingga hasilnya dapat lebih bertahan lama daripada sekedar pemberian sugesti terhadap diri kita. 

Kemudian, apabila kegiatan pengisian lembar kerja ini terus kita lakukan secara rutin (latihan), maka dengan sendirinya akan terbentuk pikiran yang benar mengenai kebiasaan OCD kita. Kegiatan pengisian lembar kerja ini tentunya harus dibarengi dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari. Artinya kita perlahan-lahan sembari belajar untuk mengurangi kebiasaan OCD kita di kehidupan nyata. Kedua macam usaha ini memang membutuhkan keyakinan bahwa kita bisa melakukannya. Ingatlah bahwa tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan serta yakinlah bahwa Tuhan pasti akan membantu hamba-Nya yang berusaha.


Karena jika dijabarkan di sini akan terlalu panjang, maka sharing pengalaman saya mengenai cara pengisian lembar kerja terapi akan saya tulis di postingan selanjutnya. 

-Untuk sharing contoh cara pengisian lembar kerja pertama, klik di sini.
-Untuk sharing contoh cara pengisian lembar kerja kedua, klik di sini.

Lanjut kepada pengalaman konseling saya, jadi Mbak tidak henti-hentinya mengingatkan saya di setiap pertemuan untuk terus berlatih mengisi lembar kerja di rumah. Terlebih apabila ada hal-hal yang mengganggu pikiran saya atau membuat saya was-was. Saya disuruh memikirkan sebenarnya apa sumber dari rasa was-was itu dan berapa persen kemungkinannya untuk terjadi? Apakah hal yang saya lakukan itu memang perlu? Begitu seterusnya. 


Selain itu saya juga selalu diingatkan untuk mempraktekkan apa yang telah saya dapatkan dari kegiatan pengisian lembar kerja di kehidupan sehari-hari. Karena menurut Mbak, kunci kesembuhan dari OCD tak lain tak bukan adalah dengan melawannya, dengan melawan ketakutan dan kecemasan berlebihan yang mengganggu kita. Memang hal terberat yang menjadi penghalang bagi seorang penderita OCD adalah rasa takut dan keraguan kita sendiri untuk melawan. Terkadang kita lebih memilih menghindar daripada melawan. Namun dengan terus-menerus takut, ragu, atau menghindar untuk melawan hanya akan membuat OCD kita semakin parah dan semakin sulit untuk sembuh. Jadi OCD ini memang harus dihadapi dengan keinginan yang kuat untuk sembuh dan keberanian untuk melawannya. Jangan biarkan OCD merusak hidup kita.


Menurut saya sendiri, untuk melawannya kita memerlukan logika sebagai dasar dan juga keyakinan pada Tuhan YME dan diri sendiri sebagai kekuatan. Jadi kita juga perlu memperkuat keyakinan pada Tuhan YME, misalnya dengan memperbaiki ibadah.

Kegiatan terapi lain yang saya lakukan pada saat konseling adalah terapi relaksasi. Saya diminta duduk setengah berbaring di sebuah kursi khusus terapi dan mendengarkan perkataan Mbak. Mbak meminta saya untuk membayangkan bahwa saya sedang berada di sebuah tempat yang indah dan tenang serta berbagai sugesti lainnya yang membuat saya rileks. Saya juga diminta mengatur pernafasan saya dan menenangkan hati dan pikiran saya. Mbak mengatakan kepada saya bahwa kegiatan ini bisa dilakukan sendiri ketika diperlukan, misalnya ketika saya sedang cemas akan sesuatu saya bisa duduk sejenak dan merileks-kan diri saya sendiri. Kurang lebih seperti cara di atas, walau tidak harus persis.


Setelah mengikuti konseling, OCD saya memang belum sembuh total dan kadang-kadang juga masih kambuh. Namun saya sangat merasa terbantu dengan adanya konseling ini sehingga saya mendapat bekal untuk bisa menangani OCD saya dengan lebih baik. Dengan mengikuti konseling saya juga merasa telah beberapa langkah lebih maju menuju kesembuhan. Sekarang perlahan-lahan saya mulai bisa mengontrol OCD saya, terlebih dengan mengingat apa-apa yang saya dapat ketika konseling. Saya juga menjadi lebih bersemangat dan timbul keyakinan dalam diri bahwa saya mampu menghadapi cobaan ini. Intinya tidak ada yang rugi dengan mengikuti konseling dengan psikolog/psikiater. Malahan kita mendapat manfaat yang dapat membantu kesembuhan kita.


OCD memang tidak bisa sembuh dalam sekejap, namun saya yakin OCD bisa dilawan. Sejak menulis mengenai OCD di blog ini, banyak respon yang datang, salah satunya melalui email. Ada seorang pembaca yang bercerita bahwa temannya yang juga menderita OCD sulit dan tidak mau diajak menemui psikolog/psikiater. Saya sangat mengerti mengingat saya sendiri baru memutuskan pergi ke psikolog setelah setahun bergelut dengan penyakit ini. Hal ini sangat tidak disarankan karena walaupun tetap bisa bekerja, saya bekerja dengan susah payah dan menahan rasa sakit dari dalam diri saya. Selain itu, menunda pengobatan sama dengan mempersulit kesembuhan, sebab penyakit semakin dibiarkan tentunya akan semakin bertambah parah. Alangkah sangat baiknya jika kita sesegera mungkin menemui psikolog/psikiater. Jangan pernah takut, sebab psikolog/psikiater pasti akan mengerti apa yang kita alami dan mau membantu kita.


Baiklah, sekian postingan saya mengenai pengalaman saya mengikuti konseling. Semoga bisa bermanfaat bagi orang lain yang juga memiliki OCD.


Selalu ingat, kita tidak pernah sendiri. Bukan hanya kita sendiri yang menderita OCD. Selain itu kita juga harus kuat, karena kita punya Tuhan, diri kita sendiri, dan juga orang-orang yang pastinya bersedia membantu kita.

Salam.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

12 komentar:

Andi_STsetia said...

bener2 bermanfaat...

namun waktu kau konseling ke psikolog di RJSD di kota saya,
saya tidak menyinggung ttg OCD dan hanya menceritakan akulumasi kekecewaan saya thd keluarga...

Varla Dhewy said...

Tidak harus kok, Andi. Sebab yang berhak mendiagnosa kita OCD/tidak adalah psikolog. Yang perlu kita lakukan adalah menceritakan apa yang menjadi permasalahan kita pada psikolog. Psikolog mempunyai metode sendiri untuk menentukan apakah orang tsb. OCD/ tidak, begitu pun dengan gangguan psikologis lainnya yang mungkin dimiliki seseorang. Memang kalau boleh tahu gangguan psikologis apa yang Andi alami?

Fernando Trisandi said...
This comment has been removed by the author.
Fernando Trisandi said...

hi,
saya jg penderita OCD tp sebelum saya punya penyakit itu saya pernah depresi pada tahun 2002 itu waktu saya mau masuk sma dan seiring berjalannya waktu saya terkena OCD. sampai sekrang kehidddupan saya terganggu saya ga bisa melakukan kegiatan dengan normal. mungkin untuk yg mengalami OCD bisa saling berbagi agar masalah dapat teratasi walaupun hanya dapat meringankan saja. …

Fernando Trisandi said...

oh ya ada pertanyaann, kamu melalukan pengisian lembar kerja apa di imbangi dengan obat?

saya sering mencoba untuk melawan gejala-gejala OCD tp selalu tidak bisa di tahan dan alhasil selalu muncul kecemasan dan dada saya suka sesak walaupun saya sudah minum obat. dan obatnya pun masih di kasih obat yg lama sewaktu saya terkena depresi waktu belum terkena OCD,,,

Varla Dhewy said...

@Fernando Trisandi : Mas Fernando apakah gangguan psikologis yang mas alami sudah berimbas pada aspek fisik/kesehatan jasmani? Dan apakan obat tsb. diberikan oleh psikiater? Sebab setau saya pemberian obat biasanya dilakukan jika gangguan psikologis yg dialami sudah berimbas pada aspek fisik, dan yang biasa memberikannya adalah psikiater.
Saya sendiri tidak diberikan obat dan usaha penyembuhannya hanya sampai ke tahap psikolog saja, dengan melakukan terapi, latihan, dll. Lebih ke mengubah pola pikir dan membentuk keyakinan diri dan juga berusaha melawan sekuatnya terhadap gangguan yang dialami sehari-hari. Bukan pikiran yang mengendalikan kita, tapi kitalah yang mengendalikan pikiran. Dan semua itu akan dapat kita lakukan jika kita bersandar pada Tuhan YME.
Mas Fernando semangat terus ya, Anda gak sendirian :)

Fernando Trisandi said...

saya di beri obat oleh psikiater cuman obat itu diberikan sewaktu saya terkena depresi semacam waham beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengeluhkan gejala sering melakukan kegiatan yg berulang setiap pikiran saya memikirkan atau terfokus ke sesuatu hal yg ga saya sukai atau hal yg saya suka (aneh memang) dan dokter pun memberi obat satu macam untuk di tambahkan ke obat yg sebelumnya seiring berjalannya waktu obat yg di tambahkan itu pun di hentikan karna saya sudah agak baikan tapi muncul lagi gejala seperti itu. mungkin mbk kurang paham tentang medisnya tapi saya hanya ingin berbagi keluh kesah saya selama ini soalnya yg tau penyakit saya ini hanya keluarga saja orang lain tidak pernah ada yang tau, saya sembunyikan penyakit saya ini sudah bertahun-tahun dari orang lain. orang lain hanya bisa nelihat saya dari luar terlihat biasa saja tp setiap tawa saya menyimpan luka yg menganga...
saya agak sedkit lega bisa menyampaikan ini kana dari dulu saya ingin curhat tp ga tau sama siapa? sebab orang lain yg tidak pernah merasakn ini mungkin kurang paham kalo saya cerita ..... :D

Varla Dhewy said...

Iya mas perasaan2 seperti itu juga tepat sama saya rasakan, :)
Sangat sakit memang karena terkadang hal2 yang kita lakukan berulang2 dgn maksud menghilangkan kecemasan justru hanya membuat kecemasan itu semakin parah dan menjadi kebiasaan yang menyiksa.
Perlu usaha kuat untuk mengalahkan dorongan tersebut. Namun kita harus yakin tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dan kita harus sadar bahwa masing2 dari kita berhak hidup bahagia tanpa beban. Jangan biarkan gangguan tersebut menghalangi kita untuk mengembangkan potensi yg ada dalam diri kita.
Kemarin saya sudah masukin id line via hangout mas kalau mau lebih efektif sharing-nya.

Riamco lee said...

Bu, kalau boleh share psikolog nya dimana? sy jg mau berbat, sy lokasi di jakarta.

Varla Dhewy said...

bisa email ke vidhee.me.here@gmail.com mas :)

Youtuber said...

mbak varla dhewy, saya ada email ke vidhee.me.here@gmail.com. mohon untuk dibalas mbak. terima kasih

Andrea Tania said...

Selamat malam, mbak. Nama saya Andrea Tania, mahasiswi semester 8 di UMN. Saya sedang melakukan tugas akhir mengenai OCD, kalau boleh saya ingin meminta contact mbak untuk narasumber saya. Terima kasih, mbak :)

Post a Comment

Silakan berikan komentar Anda mengenai postingan ini, terima kasih :)

Silakan mengisi buku tamu :)