Powered by Blogger.
RSS

Memperbaiki Persepsi Tentang OCD [PENTING UNTUK DIBACA]

ilustrasi foto dari: morandonaamerica.com
Sejak membuat berbagai postingan tentang OCD, saya mendapat banyak respon dari pengunjung blog saya. Responnya macam-macam, ada yang senang karena menemukan teman yang mengalami hal yang sama, ada yang mulai menyadari adanya gejala OCD pada dirinya, ada yang ingin tahu lebih lanjut mengenai OCD, dan masih banyak lagi.

Saya senang terhadap berbagai respon yang datang tersebut. Namun mungkin dikarenakan keterbatasan saya, saya belum bisa memfasilitasi semua respon tersebut dengan baik. Saya bukan psikolog, bukan juga psikiater. Intinya saya sesungguhnya bukan orang yang ahli dalam bidang ini. Saya hanya salah satu penderita OCD yang ingin berbagi pengalaman. Lanjut baca ya....

Mengapa hal ini saya lakukan? 

Alasan pertama, sebab saya merasakan bagaimana sakitnya menjadi penderita OCD. Bagaimana sakitnya mengalami keenam gejalanya (baca di sini tentang gejala OCD) dalam kadar yang sangat parah hingga mengganggu aktivitas dan cita-cita saya. Saya juga mengalami depresi, membenci diri saya sendiri, merasa menyusahkan orang tua dan teman-teman saya. Entah berapa kali saya bermasalah dengan mereka dan membuat mereka menangis. Rasanya sakit sekali. Sungguh sangat sakit sekali saat engkau tidak bisa mengontrol pikiran dan perilakumu, sedangkan batinmu memberontak akan hal itu.

Rasanya sakit sekali melihat orang-orang yang kau sayangi bersedih dan ikut merasa sakit atas apa yang kau alami. Kau tak ingin menyakiti mereka dan membuat mereka menangis, namun kau tak mampu mengontrol hati dan pikiranmu. Kau tidak bisa mengendalikan mereka.

Di situlah timbul keinginan kuat untuk sembuh dan berobat. Karena saya ingin, sangat ingin, mampu untuk mengendalikan hati dan pikiran saya. Demi orang-orang yang saya sayangi. Apakah saya harus kalah dengan penyakit ini dan mengesampingkan mereka? Jawabannya tentu tidak!

Oleh karena itu saya berjuang. Walau tersandung-sandung. Walau belum jua bertemu dengan yang namanya keberhasilan dan kesembuhan total. Sebab saya tahu, dengan bergerak pun saya telah beberapa langkah menuju kemenangan. Namun jika saya diam, maka saya luar biasa kalahnya tertinggal di belakang.

Alasan kedua, saya merasakan sakitnya merasa sendiri, merasa menjadi orang aneh dengan semua hal yang saya lakukan. Saya merasa tidak satu pun orang yang dapat mengerti apa yang saya rasakan dan saya mengalami depresi hebat karenanya. 

Saya tidak mau hal itu terjadi pada orang lain. Saya tidak tahu jika di tempat lain ada orang yang mengalami apa yang saya alami. Saya tidak mau mereka merasakan apa yang saya rasakan. Saya ingin mereka tidak merasa sendiri. Saya ingin mereka tahu jika ada orang yang sama dengan mereka. Saya ingin dengan hal itu mereka menjadi kuat dan mau berjuang. Itu yang saya inginkan.


Hal yang Saya Tidak Inginkan:

1. Sebenarnya saya tidak ingin membuat orang lain menjadi paranoid atau dengan mudah mendiagnosa dirinya OCD.

Sebab yang berhak mendiagnosa apakah seseorang OCD atau tidak adalah seorang psikolog atau orang yang ahli di bidang psikologi. 

Jika Anda ingin mengetahui apakah Anda OCD atau tidak atau seberapa parah gangguan psikologis yang Anda miliki, Anda harus berkonsultasi pada psikolog. Psikolog memiliki metode tersendiri untuk mendiagnosa jenis gangguan psikologis yang dimiliki seseorang beserta kadarnya. 

Jadi, kita tidak berhak mendiagnosis diri kita sendiri bahwa kita OCD. Hal yang dapat kita lakukan jika kita merasa memiliki gejala-gejala OCD adalah:

      -Mengontrolnya supaya tidak menjadi semakin parah dan berkembang menjadi gangguan psikologis/penyakit yang dapat mengganggu aktivitas kehidupan Anda. 

       -Jika gangguan yang Anda rasakan semakin parah hingga mengganggu aktivitas kehidupan Anda sehari-hari, Anda harus memeriksakan diri kepada psikolog. Sehingga jika benar Anda menderita OCD, maka dapat dilakukan tindakan sedini mungkin agar tidak menjadi lebih parah lagi.

2. Saya tidak ingin pengetahuan mengenai OCD malah membuat kita merasa tidak perlu berhati-hati dalam setiap hal yang kita lakukan

Tentunya tidak seperti itu. Kehati-hatian/kewaspadaan adalah hal yang dianugerahkan Tuhan agar manusia dapat terhindar dari bahaya. Kehati-hatian tetap diperlukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.  Namun kadarnya tidak berlebihan, apalagi sampai membuat pelaku stress/tertekan/depresi. Kadarnya tetap harus dijaga dalam koridor sewajarnya.

Penderita OCD, merasakan kesulitan yang luar biasa dalam mengontrol pikiran dan perilakunya sehingga ia merasa stress/tertekan/depresi. Oleh karena itu, diperlukan terapi agar ia dapat mengontrol pikiran dan perilakunya sehingga dapat kembali bersikap normal. Penyembuhannya juga sangat perlu  dilakukan dari segi agama yaitu dengan mendekatkan diri kepada Tuhan YME, memperbanyak beribadah dan berdoa. Sebab Tuhan itu Maha Menyembuhkan dan Maha Menolong hamba-hambaNya.

Jangan pernah malu/takut untuk berkonsultasi pada psikolog mengenai gangguan psikologis yang Anda alami. Psikolog memiliki kode etik tersendiri dalam menjaga kerahasiaan orang yang ditanganinya. Anda harus menceritakan keseluruhan permasalahan Anda agar dapat dilakukan diagnosa dan cara penyembuhan yang benar.

Sekian dari saya, semoga dapat memperbaiki persepsi kita mengenai OCD.  



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Delyanet Karmoni said...

Varla, klo ndak keberatan, bagi cerita tentang awal kena gejala OCD nya dong.. Supaya jadi lebih waspada, gitu... Soalnye di sini kan Varla lebih sering cerita OCD secara umum, tapi ndak cerita tentang kasusnya, jadi agak bingung, orang OCD tu gimana sih.. gitu..

Varla Dhewy said...

Iya kak emg udah ada dlm rencana var mau bikin tulisan yg lebih komplit ttg OCD, terutama yg varla alami, tapi belum sempat. Soalnya panjaaang banget ceritanya jd emg butuh waktu khusus nulisnya... InsyaAllah segera ya kak, makasih udah diingatkan kakakku... :) ;)

Post a Comment

Silakan berikan komentar Anda mengenai postingan ini, terima kasih :)

Silakan mengisi buku tamu :)