Powered by Blogger.
RSS

JANJI


ilustrasi foto dari: gdefon.com
"Janji harus di tepati, Ning,"katamu memecah kebisuan yang membeku di suatu sore.

"Maka izinkanlah aku pergi untuk kemudian menjemputmu. Aku janji saat itu aku akan beroleh restu Bapakmu. Kita akan pergi bersama-sama meninggalkan kota ini. Kau dan aku...." 

Lisanku tak mampu bersuara untuk melarang keinginanmu. Tidak ada anggukan atau gelengan yang kuperlihatkan padamu. Aku tahu tak ada gunanya melakukan semua itu. Tekadmu telah membulat. Dengan secercah asa yang tampak sejauh penerawanganmu, kau berbalik badan dan menjauhiku.

Lalu sejak hari itu setiap hari aku menunggumu di bangku stasiun kereta. Siapa tahu suatu waktu Engkau pulang tak disangka. Aku ingin kau melihatku di sana. Dengan blus bunga-bunga terbaik yang kupunya. Rambutku kubiarkan terurai sempurna. Lalu kuselipkan jepit rambut merah di atas telinga. Gincu pun kuoleskan tipis-tipis supaya bibirku terlihat lebih merona.

Aku siap menyambutmu datang. Kau dan keberhasilanmu. Kau dan setumpuk uang hasil jerih payahmu. Dengan itu kau akan meminta restu Bapakku. Kemudian kau akan membawaku pergi dari kota ini. Membangun sebuah keluarga. Membesarkan anak yang lucu-lucu yang akan memanggilmu 'Ayah' dan 'Bunda' kepadaku.

"Janji harus ditepati Ning,"katamu. Cukuplah itu sebagai titah raja yang harus kupatuhi. Tak kuhiraukan mereka yang datang berusaha menyelisihi jalanmu untuk menjadi suamiku. Aku hanya ingin bersamamu. Walau harus menentang keinginan Bapakku. Walau mereka bilang aku gila karena tak tergiur oleh kilau emas dan tumpukan uang yang mereka bawa. Tidak, merekalah yang gila karena buta oleh harta. 

Dan penantianku selama ini terbayarkan. Aku tahu bahwa semua yang kulakukan tak akan menjadi sebuah kesia-siaan. Kau akhirnya datang di hadapanku. Pemuda papa yang tak berayah dan tak beribu. Dicela orang karena berani mencintai anak gadis seorang tuan tanah. Pemuda papa yang tak berharta dan telah kenyang oleh hinaan, pergi merantau untuk sebuah penghidupan. Agar dapat kembali untuk menjemput seorang perempuan.

Pemuda itu kini berada di depanku dengan pakaian yang menawan. Tak kalah dengan laki-laki kebanyakan. Dengan seulas senyuman ia mengulurkan tangan,

"Aku datang, Ning, menjemputmu..."

Mataku berkaca-kaca, kusambut uluran tangan itu. Penantian panjang demi menunggu seorang pemuda yang berkata akan menepati janjinya telah berakhir. Penantian panjang yang membuat telingaku tuli akan rayuan manusia dan buta pada silaunya harta. Aku tahu kau akan menepati janjimu. Aku selalu tahu. Ya, aku selalu tahu dan yakin. Sejak dulu.
*********************************************************************************

"Seorang wanita tua...."

"Meninggal tertabrak kereta...."

"Menabrakkaan diri lebih tepatnya...."

"Kok bisa sih, apa yang di pikirannya?"

"Katanya dia gila...."

"Apa??"

"Ya, tiga puluh tahun menunggu kekasihnya yang tak pulang-pulang. Kata orang kekasihnya tewas dalam kecelakaan kereta."

"Oh, dia yang selalu duduk di bangku peron sebelah sana."

"Tak ada yang berani mengganggunya, kadang-kadang petugas stasiun yang kasihan memberinya makan."

"Tragis."

"Ya, amat tragis."

"Petugas stasiun akan mengurusnya."


Kubu Raya, 15 Februari 2014
(Varla Dhewiyanty)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Fadillah Febriani said...

..yahhh,,,akhirnya..
Ning dan Pria Papa bertemu pada alam-Nya
yg abadi
atas nama cinta

Post a Comment

Silakan berikan komentar Anda mengenai postingan ini, terima kasih :)

Silakan mengisi buku tamu :)